Why we Love who we Love

July 13, 2008 at 4:49 am Leave a comment

Everyday in love, hehe… That’s what I feel nowadays.. Senangnya bisa punya seseorang yang selalu nemenin gw kapanpun gw butuh, and gw bisa bertingkah laku semau gw di depannya.. That’s him.. That’s what I’ve been looking for, since I don’t know when..

Gw baru aja meng-install program Google Desktop di laptop, dan gw iseng nyari-nyari isi laptop gw yang penuh ini. Dan gw menemukan sebuah artikel menarik dengan kata kunci “LOVE”.

Ada sebuah artikel, entah dari situs apa, sayangnya gw lupa, yang judulnya Why We Love Who We Love dari Dr. Joyce Brothers. Isinya lumayan bagus lah.. Ini artikelnya yang udah gw terjemahin.

———————————————————————————————–

Why We Love Who We Love

Dr. Joyce Brothers

Pernahkah kamu mengetahui pasangan yang telah menikah yang terlihat tidak cocok sekalipun, tapi mempunyai pernikahan yang luar biasa dan sangat bahagia, dan pernahkah kamu memikirkan kenapa?

Saya mengenal pasangan suami istri yang demikian. Sang suami adalah seorang mantan atlet yang sekarang menjadi pengusaha sukses, sekarang ia melatih di Little League, berpartisipasi aktif di Rotary Club, dan bermain golf setiap hari Sabtu bersama teman-temannya. Sementara itu, istrinya adalah seseorang yang pemalu, pendiam, dan tipe rumahan. Ia bahkan tidak suka keluar rumah hanya sekedar untuk makan malam.

Dorongan misterius apakah yang mendorong seseorang menyukai pasangannya yang kadang dari penilaian observer yang objektif tidaklah cocok?

Dari banyak faktor yang mempengaruhi pandangan seseorang mengenai pasangan yang tepat, salah satunya dikemukakan oleh John Money, seorang profesor di bidang medical psychology dan pediatris di Johns Hopkins University, adalah sesuatu yang disebut dengan ‘lovemap’, kumpulan pesan yang disandikan di dalam otak yang menggambarkan kesukaan dan ketidaksukaan seseorang. Ini akan menunjukkan pilihan kita atas jenis rambut dan warna mata, jenis suara, bau, dan bentuk tubuh seseorang. Ia juga akan menyimpan data mengenai jenis kepribadian yang menarik bagi kita, apakah kepribadian yang hangat dan bersahabat, maupun kepribadian yang kuat dan tenang.

Pendek kata, kita menyukai dan menginginkan orang-orang yang sesuai dengan lovemap kita. Dan lovemap ini sangat dipengaruhi oleh masa kecil. Saat menginjak umur 8 tahun, pola pasangan yang ideal bagi kita telah mulai terbentuk di otak.

Ketika seseorang yang sedang jatuh cinta ditanyakan apa yang membuat mereka tertarik pada pasangannya, kebanyakan jawaban akan berkisar antara “Dia adalah orang yang kuat dan mandiri”, atau “Aku suka rambutnya yang lurus dan hitam” atau “Dia orang yang mempunyai selera humor sangat bagus” atau “Senyumannya hangat dan lembut”.

Saya percaya atas jawaban yang mereka berikan. Tapi saya juga mengetahui jika saya menanyakan orang yang sama untuk mendeskripsikan ibunya, akan terdapat banyak kesamaan antara pasangan ideal dengan ibu orang tersebut. Ya, ibu kita, cinta pertama yang sesungguhnya di hidup kita, yang memberikan pola terbesar pada lovemap kita.

Ketika masih kecil, ibu adalah pusat perhatian kita, dan kita adalah pusat kasih sayangnya. Jadi, karakteristik ibu akan tertinggal dan memberikan kesan, sehingga akan membentuk ketertarikan bagi kita, mulai dari bentuk wajah, bentuk tubuh, kepribadian, dan bahkan selera humornya. Jika ibu kita hangat dan penyayang, ketika telah dewasa kita cenderung akan tertarik pada orang hangat dan penyayang pula. Jika ibu kita mandiri dan memiliki emosi yang keras, kita akan tertarik pada pasangan yang demikian pula.

Ibu memiliki pengaruh besar pada anaknya, terutama anak laki-laki, ia tidak hanya memberikan ide mengenai pasangan ideal bagi anaknya itu, tapi juga akan memberi petunjuk mengenai cara pandang anaknya mengenai perempuan secara umumnya. Jadi, jika ibunya seseorang yang hangat dan ramah, anak laki-lakinya akan berpikir bahwa begitulah semua wanita apa adanya. Mereka akan cenderung tumbuh sebagai orang yang hangat dan penyayang dan juga akan rajin membantu dalam pekerjaan rumah.

Namun, jika ibu adalah seseorang yang mengalami kepribadian depresif, terkadang ramah namun sewaktu-waktu bisa berubah menjadi seseorang yang dingin, maka ia akan membesarkan anak yang akan menjadi tipe ‘dance-away lover‘. Ia takut dengan kasih sayang yang diberikan ibunya yang berubah-ubah, sehingga ia akan menjadi orang yang takut dengan komitmen pada sebuah hubungan.

Ibu menentukan bagian besar dalam otak mengenai apa yang menarik perhatian kita pada seseorang. Sedangkan ayah, laki-laki pertama dalam kehidupan kita, akan mempengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan orang yang berlainan jenis. Ayah mempunyai efek yang besar dalam kepribadian anak dan kesempatannya untuk menjalani kebahagiaan pernikahan.

Seperti pengaruh ibu terhadap anak laki-lakinya, ayah akan mempengaruhi pandangan anak perempuannya terhadap laki-laki pada umumnya. Jika ayah selalu menunjukkan kebanggaan dan memberi pujian yang tinggi terhadap anak perempuannya, maka ia akan tumbuh sebagai perempuan yang dapat berhubungan baik dengan laki-laki. Tapi, jika ayah adalah orang yang dingin, selalu mengkritik atau mendikte, anak perempuannya akan merasa ia tidak terlalu dicintai dan tidak menarik.

Bagaimana dengan pengaruh diri sendiri? Apakah ada? Jawabannya ya dan tidak. Kebanyakan, seseorang akan menginginkan orang yang menggambarkan mirror image dirinya. Contohnya, orang yang menarik secara fisik akan mencari pula pasangan yang sama menariknya.

Sebagai tambahan, kebanyakan orang tumbuh bersama orang-orang yang berada di cakupan yang sama. Kita bergaul dengan orang yang berada di kota yang sama, teman-teman kita memiliki latar belakang pendidikan yang sama pula. Kita akan lebih merasa nyaman bersama orang-orang ini, dan tambahan pula, kita akan bergaul dengan orang-orang yang keluarganya mirip dengan keluarga kita.

Robert Winch, profesor sosiologi di Northwestern University, menyebutkan dalam penelitiannya bahwa pilihan seseorang atas pasangannya melibatkan beberapa kesamaan sosial. Tapi dia juga menyebutkan pilihan seseorang atas dasar ingin melengkapi. Seorang pembicara akan tertarik dengan orang yang suka mendengarkan, atau seseorang yang agresif akan mencari partner yang lebih pasif.

Seperti pandangan yang telah lama, menyebutkan subjek yang menikah akan mencari pasangan yang akan dapat memenuhi lubang yang ia miliki, dan sebaliknya. Atau, seperti yang dikemukakan Winch di atas, kita mencari pasangan yang menyeimbangkan kesamaan sosiologis dan perbedaan psikologis agar kehidupan pernikahan dapat langgeng.

Bagaimanapun, terdapat pula bukti orang-orang dengan latar belakang sosial berbeda yang memiliki pernikahan yang bahagia. Saya mengenal satu orang, yang bekerja di pabrik di Chicago, jatuh cinta dengan seorang African-American Baptist. Ketika mereka menikah, keluarga dan teman-temannya memprediksikan kegagalan, tapi 25 tahun kemudian, pernikahan tersebut masih kuat.

Tapi terdapat pula ‘odd couples’ yang juga memiliki pernikahan bahagia. Contohnya seseorang yang sangat cantik menyukai seorang yang sangat biasa saja. Inilah yang disebut dengan the equity theory.

Ketika perempuan dan laki-laki memiliki aset tertentu, contohnya inteligensi yang tinggi, kecantikan yang unik, kepribadian yang disukai semua orang, atau kekayaan yang berlimpah, akan memberi suatu efek, dan beberapa orang akan menukarkan aset-aset mereka tersebut dengan aset seseorang yang lain, yang berbeda. Orang yang sangat cantik bisa saja menukarkan asetnya ini dengan seseorang yang sangat kaya, dengan alasan kekuatan dan keamanan. Orang yang tidak terlalu berbakat dari keluarga kaya akan menyukai pasangan yang sangat cerdas namun tidak terlalu kaya. Dan hampir semua kombinasi dari aset berbeda-beda akan dapat dipertahankan.

Kemudian, apakah terdapat sesuatu yang disebut love at first sight? Why not? Ketika seseorang tiba-tba dilanda cinta, apa yang terjadi adalah ia menemukan sesuatu yang unik yang sama-sama mereka miliki. Bisa saja ketika mereka sedang membaca sebuah buku dengan judul yang sama, atau berasal dari kota yang sama. Di waktu yang bersamaan pula mereka menyadari terdapat perilaku orang tersebut yang bersifat complementary dengan kepribadiannya.

———————————————————————————————–

Well, gimana ya? Gw rasa beberapa hal dari pacar gw emang sedikit mirip dengan mama. Haha… Bawelnya, cerewetnya, and some of his body type! Dan gw setuju dengan “talker type prefer to choose someone who likes to listen’. Gw banget. Mungkin inilah my perfect mate? Let’s wait.. J

Entry filed under: Fun. Tags: .

Welcome to new me.. Uses of the Word: F^^K

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

Categories

July 2008
M T W T F S S
    Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: