Departemen Kajian UPBM

Hah.. Setelah hampir tiga minggu dilantik jadi pengurus UPBM, which is, kepala departemen kajian, gw mulai merasa lelah.. Ga tau, lelah aja.. Gw udah berhasil menyusun 4 proker, dan ada 3 priker cadangan, seandainya terjadi apa-apa.. Gw rasa persiapan gw cukup matang, but it just feels something’s wrong..

Gw udah mendapatkan prosedur buat ke republik mimpi atau news dot com, yang merupakan salah satu program gw di enam bulan kedua nanti.. Gw berharap semua akan berjalan sesuai yang gw harap aja lah..

Oh ya, bagi yang blum tau, UPBM itu singkatan dari Unit Pencinta Budaya Minangkabau, yang posisinya adalah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di Unpad. Gw baru aktif di sini satu tahun belakangan, dan gw harap gw bisa mengemban tugas ini dengan baik.

FYI, yang namanya kajian itu berat. pendapat gw ini punya alasan2 yang kuat. Yang namanya mahasiswa, ikutan sebuah unit kegiatan agar bisa have fun, dan bukan untuk berpikir dan mengkaji, apalagi berdiskusi dan berdebat dengan sebuah topik. Pikiran ini selalu membuat gw merasa mengemban tugas ini sulit. Ya, SULIT. Gw harus cermat mencari cara menarik perhatian dan keinginan mereka.. Gw ga mau di sat LPJ nanti, kontribusi gw diberi rating BURUK.

Hah, doain gw ya..

August 2, 2008 at 7:52 am Leave a comment

Henry Murray – Teori Motivasi

Baru-baru ini gw baru saja menyelesaikan sebuah tulisan tugas kuliah, yang mengharuskan gw menganalisa kepribadian seorang tokoh yang terkenal dengan teori behaioristik ataupun humanistik. Gw memilih J.K Rowling (favorit, tapi kalo boleh ngambil Harry Potter (bukan Daniel Radcliffe), gw bakal lebih seneng, hahaha), ditiilik dengan teori motivasi Murray. Well, gw akan masukin part pertama dalam paper gw, bagian Murray. Soal J.K, later.. =)

——————————————————————————————————————–

Henry Murray (1893-1988) aktif mengembangkan teori motivasi selama tahun 1930, 1940, 1950, dan 1960an. Dia berpendapat bahwa need (kebutuhan) adalah potensi atau kesiapan untuk berespon dalam bentuk tertentu atas situasi tertentu pula. (Murray, et al. 1983, hal 124).

Definisi Murray mengenai konsep need:

“A need is a construct (a convenient fiction or hypothetical concept) which stands for a force in the brain region, a force which organizes perception, apperception, intellection, conation and action in such a way as to transform in a certain direction an existing, unsatisfying situation. A need is sometimes provoked directly by internal processes of a certain kind, but, more frequently (when in a state of readiness) by the occurrence of one of a few commonly effective press [environmental forces]. Thus, it manifests itself by leading the organism to search for or to avoid encountering or, when encountered, to attend and respond to certain kinds of press. Each need is characteristically accompanied by a particular feeling or emotion and tends to use certain modes to further its trend. It may be weak or intense, momentary or enduring. But usually it persists and gives rise to a certain course of overt behavior (or fantasy), which changes the initiating circumstance in such a way as to bring about an end situation which stills (appeases or satisfies) the organism (Murray, 1938, pp. 123-124)” (Hall & Lindzey, pp. 173-74).

Asumsi dasar tentang teori Murray adalah bahwa perilaku didorong oleh kemauan internal diri sendiri. Dengan kata lain, setiap orang mempunyai kebutuhan karena sesuatu yang tidak mereka miliki dan inilah yang menjadi dorongan. Manusia tidak pernah dipuaskan oleh apa yang telah mereka miliki.

Murray menyebutkan bahwa need bisa disimpulkan sebagai dasar dari: (1) efek atau hasil akhir dari sebuah perilaku, (2) pola tertentu atau contoh dari perilaku yang sedang dilibatkan, (3) perhatian dan respon tertentu pada objek atau stimulus yang diterima, (4) ekspresi atas emosi tertentu, dan (5) ekspresi kepuasan ketika tujuan tertentu berhasil dicapai atau kekecewaan ketika tujuan tersebut tidak berhasil dicapai (1938, hal. 124). Pendapat subjektif juga menyertakan perasaan, niat, dan tujuan atas sebuah perilaku (Hall & Lidzey, hal. 172-173).

Murray mengklasifikasikan need sebagai berikut:

· Primary needs (yang didasarkan kebutuhan biologis): makanan, air, udara, seks, dan penghindaran rasa sakit.

· Secondary needs (yang dasarnya bisa didasarkan olej kebutuhan biologis maupun perilaku yang diwarisi dalam lingkungan psikologis orang tersebut):

§ pencapaian, pengakuan, dan kemahiran

§ dominansi, agresi, dan otonomi

§ relasi dan penolakan

§ pengasuhan, permainan, rasa ingin tahu

Murray berpendapat bahwa jika keinginan lebih kuat maka ia akan diekspresikan lebih sering dan akan menuju perilaku yang lebih intensif.

Murray membagi kebutuhan manusia ke dalam 20 bentuk (Hall & Lindzey, hal. 173-174):

ILLUSTRATIVE LIST OF MURRAY’S NEEDS

Need

Brief Definition

n Abasement

Menerima dorongan dari luar dengan pasif. Mengalami luka fisik, tuduhan orang lain, kritik, dan hukuman. Untuk menyerahkan diri. Untun menjadi pasrah pada takdir. Mengakui ketidakmampuan, kesalahan, dan kekeliruan. Berani mengaku dan bertobat. Menyalahkan dan menyakiti diri sendiri. Mencari dan menikmati kesakitan, hukuman, atau ketidakberuntungan.

n Achievement

Bisa mencapai sesuatu yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengatur objek fisik, orang lain, atau ide yang dimiliki. Dapat melakukan sesuatu dengan cepat dan mandiri. Dapat mengatasi hambatan dan menetapkan standar yang tinggi. Berani berkompetisi dengan orang lain. Bisa meningkatkan kepercayaan diri dengan bakat dan kemampuan.

n Affiliation

Menikmati kerjasama dan hubungan timbal balik serta persekutuan dengan orang lain (yang mempunyai kemiripan). Untuk membuat orang lain senang dan memenangkan perhatian dari orang lain. Menjadi teman yang setia dan loyal.

n Aggression

Mengatasi perlawanan yang datang dengan kuat, dan mampu bertarung atasnya. Membalas atas kesakitan yang didapatkan, menyerang, melukai, atau membunuh orang lain. Berani menghukum orang lain atas apa yang telah disebabkan pada diri sendiri.

n Autonomy

Menjadi bebas, tidak terkekang dan tidak terkurung. Mampu menolak paksaan dan melawan batas yang diberikan. Menghindari atau tidak terlibat dengan aktivitas yang diharuskan orang lain. Mamdiri dan bebas untuk bertindak sesuai keinginan. Menjadi orang yang tidak terbebani oleh tanggung jawab. Menentang adat yang ada di lingkungan.

n Counteraction

Menguasai atau memperbaiki kesalahan dengan berusaha ilang. Menghapuskan rasa malu dengan memulai lagi hal tersebut. Mengatasi kelemahan, menekan rasa takut. Menghapuskan ketidakhormatan dengan aksi. Mengatasi segala hambatan dan rintangan dan mempertahankan harga diri yang tinggi.

n Defendence

Bertahan melawan penyerangan, kritikan, dan penyalahan. Menyembunyikan perilaku yang tidak baik, kegagalan, atau permaluan.

n Deference

Mengagumi dan mendukung penguasa. Memuji, menghormati, dan memuliakannya. Menuruti apa yang didorong oleh orang lain yang dihormati. Mencoba meniru apa yang dilakukan role model.

n Dominance

Mengontrol sebuah lingkungan. Mempengaruhi dan memerintahkan perilaku yang harus dimiliki orang lain dengan sugesti, rayuan, atau perintah. Mengendalikan dan melarang orang lain.

n Exhibition

Memuat orang lain tertarik, rasa ingin didengar dan dilihat. Untuk menghibur, mengejutkan, mempesona, memikat, membangkitkan minat, dan menjadi menakjubkan bagi orang lain.

n Harmavoidance

Menghindari rasa sakit, luka secara fisik, sakit, dan kematian. Dapat keluar dari situasi yang berbahaya. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum hal yang buruk terjadi.

n Infaavoidance

Menghindari penghinaan, dapat keluar dari situasi yang memalukan atau keluar dari kondisi yang dapat menyebabkan akan terjadinya rasa diremehkan: ejekan, cemoohan, atau dibanding-bandingkan dengan orang lain.

n Nurturance

Memberi simpati dan kepuasaan pada objek yang tidak berdaya, misalnya, anak bayi atau objek lain yang lemah, kekurangan, kelelahan, tidak berpengalaman, telah dipermalukan, kesepian, ditolak, sakit, atau kebingungan. Dapat membantu, memberi dukungan, memberi perlindungan, menyembuhkan, dan mengasuh.

n Order

Mengatur hal-hal agar menjadi tersusun dengan baik. Dapat membersihkan, menyusun, mengatur, menyeimbangkan, merapikan, dan melakuka segala hal dengan cermat dan teliti.

n Play

Bertingkah laku demi kesenangan tanpa tujuan lebih jauh. Tertawa dan membuat lelucon demi kesenangan. Mencari kesenangan untuk melepaskan rasa stres. Berpartisipasi dalam permainan, olahraga, bermain kartu, dan minum bersama.

n Rejection

Memisahkan diri sendiri dari objek yang dinilai negatif. Untuk berhenti bergabung, meninggalkan, atau bersikap menjauh dari objek yang tidak disukai. Memutuskan hubungan dengan orang lain.

n Sentience

Mencari dan menikmati kesan yang menyenangkan.

n Sex

Memiliki hubungan yang dalam dan bersifat erotik. Bersama mencapai kepuasan seksual.

n Succorance

Selalu diberikan perhatian dan simpati dari orang lain. Diasuh, dijaga, dikelilingi, dicintai, diberi nasehat, dilindungi, dibimbing, dimaafkan, dan dituruti kehendaknya. Selalu mempunyai orang yang mendukung.

n Understanding

Menanyakan atau menjawab pertanyaan umum. Berspekulasi, berpendapat, menganalisa, dan menyimpulkan suatu hal.

Murray menyebutkan bahwa dorongan dari lingkungan memberikan peran yang penting dalam kebutuhan psikogenik. Ia menyebut dorongan ini sebagai “press”, yang artinya dorongan yang menyebabkan seseorang bergerak.

Kontribusi terbesar Murray adalah pendapatnya mengenai kepribadian sebagai dorongan dari kebutuhan kedua, yaitu achievement, dominance, affiliation dan nurturance. Perluasan dari masing-masing kebutuhan ini dirasakan individu sebagai pembentuk perilaku dan kepribadiannya.

Semenjak tahun 1960 hingga 1970an, pembahasan utama mengenai need difokuskan pada achievement, power, affiliation, dan intimacy.

Sebagai contoh, the need for achievement (atau disebut juga achievement motivation) dipelajari secara ekstensif oleh David McLelland di tahun 1970an. Achievement motivation ini ditujukan pada pengertian untuk melakukan sebuah pekerjaan dengan baik, mengatasi halangan, dan bekerja dengan lebih baik lagi. Seseorang dengan motivasi prestasi yang tinggi cenderung memilih tugas yang lebih sulit dibandingkan dengan orang dengan motivasi berprestasi rendah, karena mereka ingin mencari tahu lebih dalam mengenai kemampuan mereka dalam berprestasi.

The need for power dipelajari oleh David Winter di tahun 1970an pula. The need for power adalah keinginan untuk mendominasi, memberikan pengaruh terhadap orang lain, memiliki wibawa dan memiliki posisi memimpin. Orang dengan kebutuhan ini akan seringkali mengontrol image mereka di depan orang lain. Jika kebutuhan mereka ini bisa dikombinasikan dengan mengemban tanggung jawab, maka kebutuhan mereka akan lebih dapat terpenuhi dengan izin lingkungannya.

The need for affiliation dipelajari oleh McAdam di tahun 1980an. Kebutuhan ini adalah keinginan untuk menghabiskan waktu dengan orang lain. Biasanya akan berkaitan dengan perbandingan sosial, dukungan emosional, suasana yang positif, dan perhatian yang diberikan orang lain.

August 2, 2008 at 7:34 am Leave a comment

Uses of the Word: F^^K

Gw punya rekaman suara yang gw ngga tau entah siapa, tapi lucu banget! Judulnya “Uses of the Word: Fuck”. No offense, tap ini emang bener-bener menggelikan.. Gw coba nyalin dari rekaman itu, and here it is.. (Sori kalo ada yang salah..)

————————————————————————————————-

Fuck, as most words in English language, is derived from Germany, from the word ‘Flicken’, which means ‘to strike’.

In English, fuck falls into many categories:

  • As a transitive-verb, for instance: “John fucks surely.”

  • As an intransitive verb: “Surely fucks.”

Its meaning is not always sexual, it can be used:

  • As an adjective such as: “John’s doing all the fucking works.”

  • As a part of an adverb: “She talks too fucking much!”

  • As an adverb in adding the adjective: “She is fucking beautiful!”

  • As the objective of an adverb: “She is fucking beautifully!”

  • As a noun: “I don’t give a fuck!”

  • As a part of the word: “Absofuckinglutely!” or “Infuckingcredible!”

  • As almost every word in the sentence: “Fuck the fucking fuckers!”

As you may realize, there’re very few words with a first utility of fuck. As an example, describing situation such as:

  • Froud: “I got fucked in the used car locked”

  • Dishappy: “Oh, fuck it!”

  • Trouble: “I guess I’m really fucking out!”

  • Aggresion: “Don’t fuck with me, buddy..”

  • Difficulty: “I don’t understand this fucking question!”

  • Inquiry: “Who the fuck was that?”

  • Dissatisfaction: “I don’t like what the fuck is going on here”

  • Incompetence: “He’s a fuck off!”

  • Dismissile: “Why don’t you go outside and play hide and go fuck yourself??”

I’m sure you can think of many more examples, with all of this multi-purpose apllications, how can anyone be offended when you use this word? We say, use this unique flexible word more often in your daily speech, it will identify the quality of your character immediately.

So say it loudly and proudly: “F**K YOU!!”

July 26, 2008 at 9:23 am Leave a comment

Why we Love who we Love

Everyday in love, hehe… That’s what I feel nowadays.. Senangnya bisa punya seseorang yang selalu nemenin gw kapanpun gw butuh, and gw bisa bertingkah laku semau gw di depannya.. That’s him.. That’s what I’ve been looking for, since I don’t know when..

Gw baru aja meng-install program Google Desktop di laptop, dan gw iseng nyari-nyari isi laptop gw yang penuh ini. Dan gw menemukan sebuah artikel menarik dengan kata kunci “LOVE”.

Ada sebuah artikel, entah dari situs apa, sayangnya gw lupa, yang judulnya Why We Love Who We Love dari Dr. Joyce Brothers. Isinya lumayan bagus lah.. Ini artikelnya yang udah gw terjemahin.

———————————————————————————————–

Why We Love Who We Love

Dr. Joyce Brothers

Pernahkah kamu mengetahui pasangan yang telah menikah yang terlihat tidak cocok sekalipun, tapi mempunyai pernikahan yang luar biasa dan sangat bahagia, dan pernahkah kamu memikirkan kenapa?

Saya mengenal pasangan suami istri yang demikian. Sang suami adalah seorang mantan atlet yang sekarang menjadi pengusaha sukses, sekarang ia melatih di Little League, berpartisipasi aktif di Rotary Club, dan bermain golf setiap hari Sabtu bersama teman-temannya. Sementara itu, istrinya adalah seseorang yang pemalu, pendiam, dan tipe rumahan. Ia bahkan tidak suka keluar rumah hanya sekedar untuk makan malam.

Dorongan misterius apakah yang mendorong seseorang menyukai pasangannya yang kadang dari penilaian observer yang objektif tidaklah cocok?

Dari banyak faktor yang mempengaruhi pandangan seseorang mengenai pasangan yang tepat, salah satunya dikemukakan oleh John Money, seorang profesor di bidang medical psychology dan pediatris di Johns Hopkins University, adalah sesuatu yang disebut dengan ‘lovemap’, kumpulan pesan yang disandikan di dalam otak yang menggambarkan kesukaan dan ketidaksukaan seseorang. Ini akan menunjukkan pilihan kita atas jenis rambut dan warna mata, jenis suara, bau, dan bentuk tubuh seseorang. Ia juga akan menyimpan data mengenai jenis kepribadian yang menarik bagi kita, apakah kepribadian yang hangat dan bersahabat, maupun kepribadian yang kuat dan tenang.

Pendek kata, kita menyukai dan menginginkan orang-orang yang sesuai dengan lovemap kita. Dan lovemap ini sangat dipengaruhi oleh masa kecil. Saat menginjak umur 8 tahun, pola pasangan yang ideal bagi kita telah mulai terbentuk di otak.

Ketika seseorang yang sedang jatuh cinta ditanyakan apa yang membuat mereka tertarik pada pasangannya, kebanyakan jawaban akan berkisar antara “Dia adalah orang yang kuat dan mandiri”, atau “Aku suka rambutnya yang lurus dan hitam” atau “Dia orang yang mempunyai selera humor sangat bagus” atau “Senyumannya hangat dan lembut”.

Saya percaya atas jawaban yang mereka berikan. Tapi saya juga mengetahui jika saya menanyakan orang yang sama untuk mendeskripsikan ibunya, akan terdapat banyak kesamaan antara pasangan ideal dengan ibu orang tersebut. Ya, ibu kita, cinta pertama yang sesungguhnya di hidup kita, yang memberikan pola terbesar pada lovemap kita.

Ketika masih kecil, ibu adalah pusat perhatian kita, dan kita adalah pusat kasih sayangnya. Jadi, karakteristik ibu akan tertinggal dan memberikan kesan, sehingga akan membentuk ketertarikan bagi kita, mulai dari bentuk wajah, bentuk tubuh, kepribadian, dan bahkan selera humornya. Jika ibu kita hangat dan penyayang, ketika telah dewasa kita cenderung akan tertarik pada orang hangat dan penyayang pula. Jika ibu kita mandiri dan memiliki emosi yang keras, kita akan tertarik pada pasangan yang demikian pula.

Ibu memiliki pengaruh besar pada anaknya, terutama anak laki-laki, ia tidak hanya memberikan ide mengenai pasangan ideal bagi anaknya itu, tapi juga akan memberi petunjuk mengenai cara pandang anaknya mengenai perempuan secara umumnya. Jadi, jika ibunya seseorang yang hangat dan ramah, anak laki-lakinya akan berpikir bahwa begitulah semua wanita apa adanya. Mereka akan cenderung tumbuh sebagai orang yang hangat dan penyayang dan juga akan rajin membantu dalam pekerjaan rumah.

Namun, jika ibu adalah seseorang yang mengalami kepribadian depresif, terkadang ramah namun sewaktu-waktu bisa berubah menjadi seseorang yang dingin, maka ia akan membesarkan anak yang akan menjadi tipe ‘dance-away lover‘. Ia takut dengan kasih sayang yang diberikan ibunya yang berubah-ubah, sehingga ia akan menjadi orang yang takut dengan komitmen pada sebuah hubungan.

Ibu menentukan bagian besar dalam otak mengenai apa yang menarik perhatian kita pada seseorang. Sedangkan ayah, laki-laki pertama dalam kehidupan kita, akan mempengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan orang yang berlainan jenis. Ayah mempunyai efek yang besar dalam kepribadian anak dan kesempatannya untuk menjalani kebahagiaan pernikahan.

Seperti pengaruh ibu terhadap anak laki-lakinya, ayah akan mempengaruhi pandangan anak perempuannya terhadap laki-laki pada umumnya. Jika ayah selalu menunjukkan kebanggaan dan memberi pujian yang tinggi terhadap anak perempuannya, maka ia akan tumbuh sebagai perempuan yang dapat berhubungan baik dengan laki-laki. Tapi, jika ayah adalah orang yang dingin, selalu mengkritik atau mendikte, anak perempuannya akan merasa ia tidak terlalu dicintai dan tidak menarik.

Bagaimana dengan pengaruh diri sendiri? Apakah ada? Jawabannya ya dan tidak. Kebanyakan, seseorang akan menginginkan orang yang menggambarkan mirror image dirinya. Contohnya, orang yang menarik secara fisik akan mencari pula pasangan yang sama menariknya.

Sebagai tambahan, kebanyakan orang tumbuh bersama orang-orang yang berada di cakupan yang sama. Kita bergaul dengan orang yang berada di kota yang sama, teman-teman kita memiliki latar belakang pendidikan yang sama pula. Kita akan lebih merasa nyaman bersama orang-orang ini, dan tambahan pula, kita akan bergaul dengan orang-orang yang keluarganya mirip dengan keluarga kita.

Robert Winch, profesor sosiologi di Northwestern University, menyebutkan dalam penelitiannya bahwa pilihan seseorang atas pasangannya melibatkan beberapa kesamaan sosial. Tapi dia juga menyebutkan pilihan seseorang atas dasar ingin melengkapi. Seorang pembicara akan tertarik dengan orang yang suka mendengarkan, atau seseorang yang agresif akan mencari partner yang lebih pasif.

Seperti pandangan yang telah lama, menyebutkan subjek yang menikah akan mencari pasangan yang akan dapat memenuhi lubang yang ia miliki, dan sebaliknya. Atau, seperti yang dikemukakan Winch di atas, kita mencari pasangan yang menyeimbangkan kesamaan sosiologis dan perbedaan psikologis agar kehidupan pernikahan dapat langgeng.

Bagaimanapun, terdapat pula bukti orang-orang dengan latar belakang sosial berbeda yang memiliki pernikahan yang bahagia. Saya mengenal satu orang, yang bekerja di pabrik di Chicago, jatuh cinta dengan seorang African-American Baptist. Ketika mereka menikah, keluarga dan teman-temannya memprediksikan kegagalan, tapi 25 tahun kemudian, pernikahan tersebut masih kuat.

Tapi terdapat pula ‘odd couples’ yang juga memiliki pernikahan bahagia. Contohnya seseorang yang sangat cantik menyukai seorang yang sangat biasa saja. Inilah yang disebut dengan the equity theory.

Ketika perempuan dan laki-laki memiliki aset tertentu, contohnya inteligensi yang tinggi, kecantikan yang unik, kepribadian yang disukai semua orang, atau kekayaan yang berlimpah, akan memberi suatu efek, dan beberapa orang akan menukarkan aset-aset mereka tersebut dengan aset seseorang yang lain, yang berbeda. Orang yang sangat cantik bisa saja menukarkan asetnya ini dengan seseorang yang sangat kaya, dengan alasan kekuatan dan keamanan. Orang yang tidak terlalu berbakat dari keluarga kaya akan menyukai pasangan yang sangat cerdas namun tidak terlalu kaya. Dan hampir semua kombinasi dari aset berbeda-beda akan dapat dipertahankan.

Kemudian, apakah terdapat sesuatu yang disebut love at first sight? Why not? Ketika seseorang tiba-tba dilanda cinta, apa yang terjadi adalah ia menemukan sesuatu yang unik yang sama-sama mereka miliki. Bisa saja ketika mereka sedang membaca sebuah buku dengan judul yang sama, atau berasal dari kota yang sama. Di waktu yang bersamaan pula mereka menyadari terdapat perilaku orang tersebut yang bersifat complementary dengan kepribadiannya.

———————————————————————————————–

Well, gimana ya? Gw rasa beberapa hal dari pacar gw emang sedikit mirip dengan mama. Haha… Bawelnya, cerewetnya, and some of his body type! Dan gw setuju dengan “talker type prefer to choose someone who likes to listen’. Gw banget. Mungkin inilah my perfect mate? Let’s wait.. J

July 13, 2008 at 4:49 am Leave a comment

Welcome to new me..

Huh.. sebuah kesenangan gw yang entah sejak kapan, menulis, dan gw selalu terkena kondisi kemalasan yang amat sangat sehingga tulisan gw hanya menjadi sebuah tulisan di kepala aja.. Gw harap sih sekarang bisa melebarkan sayap ke log, walaupun i don’t really know what to insert, yet..

Well. welcome to new world, gw ga berharap muluk-muluk atas blog ini, ga kayak Raditya Dika sih.. tapi mudah-mudahan bisa bikin gw ga malas mikir dan punya suatu tempat untuk diisi.. He..

July 13, 2008 at 4:19 am Leave a comment


Recent Comments

Categories

July 2017
M T W T F S S
« Aug    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31